Habis Tak Bersisa
Di layar itu tertulis sederhana:
0 bytes free of 237 GB.
Seperti vonis kecil dari mesin yang tak kenal belas kasihan.
Tidak ada lagi ruang tersisa.
Tidak ada backup.
Tidak ada bagian yang bisa diselamatkan.
Ia menatap angka itu lama sekali,
seolah sedang membaca riwayat hidupnya sendiri.
Dulu, dia tidak kosong.
Dulu dia penuh.
Penuh rencana.
Penuh nama-nama yang ia sebut teman.
Penuh janji yang terdengar seperti keluarga.
Penuh idealisme bodoh yang ia rawat seperti ikan hias di aquarium,
sebelum kemudian dunia datang dengan sepatu yang kotor.
Menginjaknya pelan-pelan sambil tersenyum sinis.
Ia pernah punya waktu.
Waktu untuk menjawab pesan tengah malam.
Waktu untuk menolong orang yang katanya sedang jatuh.
Waktu untuk hadir di saat orang lain butuh didengar,
dipinjami uang,
dibukakan jalan,
diberi ruang,
diberi kesempatan.
Ia pernah punya uang.
Tidak banyak, mungkin.
Tapi cukup untuk membuat orang lain merasa ia berguna.
Cukup untuk membuat meja makan selalu ramai.
Cukup untuk membuat ponselnya tidak pernah sepi.
Cukup untuk membuat orang-orang menyebutnya “saudara”,
kata indah yang sering dipakai manusia
ketika mereka belum selesai mengambil sesuatu darimu.
Ia pernah punya keluarga.
Bukan hanya darah, tapi orang-orang yang ia pilih sendiri.
Teman-teman yang ia kira akan bertahan ketika matahari tenggelam.
Orang-orang yang pernah tertawa di sampingnya,
bersandar di pundaknya,
meminjam tenaganya,
menguras harinya,
lalu menepuk bahunya seperti ia adalah tiang listrik:
"Berdiri saja di situ, berguna, diam, jangan mengeluh."
Lalu pekerjaan datang.
Awalnya seperti tanggung jawab.
Lalu berubah menjadi penjara yang sopan.
Pekerjaan mengambil paginya.
Mengambil malamnya.
Mengambil liburnya.
Mengambil tubuhnya sedikit demi sedikit,
sampai tidur pun terasa seperti utang yang belum sempat dibayar.
Pekerjaan mengambil suaranya.
Ia mulai jarang bicara kecuali untuk menjelaskan,
menyelesaikan,
memperbaiki,
meminta maaf atas kesalahan yang bahkan bukan miliknya.
Pekerjaan mengambil wajahnya dari meja makan keluarga.
Mengambil percakapan kecil.
Mengambil ulang tahun yang terlewat.
Mengambil kabar yang tidak sempat ditanyakan.
Mengambil dirinya dari orang-orang yang benar-benar mencintainya,
lalu menggantinya dengan versi lelah yang hanya pulang untuk mandi dan diam.
Teman-temannya?
Mereka mengambil sisanya.
Sedikit waktu di sini.
Sedikit uang di sana.
Sedikit tenaga.
Sedikit telinga.
Sedikit kesabaran.
Sedikit hidup.
Tidak ada yang terasa besar ketika diambil satu per satu.
Begitulah cara perampokan paling rapi bekerja:
Bukan dengan membobol pintu, tapi dengan mengetuk sambil membawa alasan.
“Aku cuma butuh sebentar.”
“Aku janji balikin.”
“Kamu kan ngerti.”
“Kita kan teman.”
“Bantu kali ini aja.”
Kali ini aja.
Selalu kali ini.
Sampai seluruh hidupnya menjadi gudang barang titipan orang lain.
Ia memberi sampai lupa menghitung.
Ia percaya sampai lupa curiga.
Ia bertahan sampai lupa bahwa dirinya bukan Fort Rotterdam.
Lalu suatu hari, ia habis.
Habis yang tidak seperti dompet kosong karena itu masih bisa diisi ulang.
Habis yang tidak seperti baterai karena itu tinggal dicolok ke listrik.
Ia habis seperti rumah setelah kebakaran:
Masih ada bentuknya, tapi tidak lagi bisa disebut tempat tinggal.
Pada hari itulah ia melihat sesuatu dengan sangat jelas.
Teman-temannya tidak pergi tiba-tiba.
Mereka hanya berhenti berpura-pura tinggal.
Ketika ia tidak lagi punya uang untuk dipinjam, mereka sibuk.
Ketika ia tidak lagi punya waktu untuk menemani, mereka tersinggung.
Ketika ia tidak lagi punya tenaga untuk menyelamatkan, mereka kecewa.
Ketika ia mulai butuh ditolong, mereka menghilang dengan rapi,
seolah dunia menyediakan tombol arsip untuk manusia yang tidak lagi menguntungkan.
Tidak ada perpisahan besar.
Tidak ada pengakuan dosa.
Tidak ada yang datang berkata,
“Maaf, kami sudah mengurasmu.”
Yang ada hanya pesan yang tidak dibalas.
Telepon yang tidak diangkat.
Undangan yang tidak lagi sampai.
Nama yang pelan-pelan hilang dari percakapan.
Ia ditinggalkan bukan seperti manusia yang terluka,
tapi seperti barang rusak.
Seperti sampah.
Bahkan bukan sampah yang bisa didaur ulang.
Karena bagi mereka, ia sudah tidak punya nilai pakai.
Lucu, pikirnya.
Atau mungkin tidak lucu sama sekali.
Selama ia masih bisa memberi, ia disebut baik.
Saat ia mulai berkata tidak, ia disebut berubah.
Saat ia hancur, ia disebut lemah.
Saat ia diam, ia dianggap selesai.
Malam itu ia duduk sendirian di depan layar.
Ikon drive itu kecil saja.
WIN11 (C:)
0 bytes free of 237 GB.
Ia tertawa pelan.
Ternyata hidupnya bisa diringkas oleh komputer.
Kapasitas besar.
Dipakai semua.
Tidak tersisa apa-apa.
Sistem masih menyala, tapi nyaris tidak bisa bergerak.
Ia ingin marah.
Tapi amarah juga butuh tenaga.
Ia ingin menangis.
Tapi air mata pun terasa seperti kemewahan.
Jadi ia hanya diam.
Dalam diam itu, ia mengubur banyak hal.
Harapan yang dulu menyala terlalu terang.
Idealisme yang dulu ia kira akan menyelamatkannya.
Kepercayaan pada kata “teman”.
Keinginan untuk selalu menjadi orang baik.
Keyakinan bahwa kalau ia tulus, dunia akan memperlakukannya dengan tulus juga.
Sungguh omong kosong yang indah.
Jenis omong kosong yang sering dijual murah oleh kehidupan kepada orang-orang yang belum cukup remuk.
Pagi datang tanpa permintaan maaf.
Tidak ada musik kemenangan.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada pesan panjang dari orang-orang yang akhirnya sadar.
Tidak ada tangan yang tiba-tiba menariknya dari reruntuhan.
Yang ada hanya ia.
Sendirian.
Dengan tubuh yang lelah.
Dengan nama-nama yang sudah tidak ingin ia sebut.
Dengan hidup yang harus dimulai lagi dari nol, meski nol pun rasanya masih terlalu mewah, karena ia bahkan tidak merasa punya tempat untuk berdiri.
Ia mulai membersihkan sedikit demi sedikit.
Bukan drive di komputer itu saja.
Ia menghapus kontak yang hanya datang ketika butuh.
Mengarsipkan percakapan yang isinya cuma tuntutan.
Membuang janji yang sudah busuk.
Mematikan notifikasi dari orang-orang yang menganggap perhatiannya sebagai layanan gratis dua puluh empat jam.
Ia tidak sembuh.
Belum.
Jangan terlalu dramatis. Hidup bukan film murah yang memberi pemulihan hanya karena seseorang menatap jendela sambil hujan turun.
Tapi ia mulai mengerti satu hal:
Yang habis bukan selalu mati.
Kadang yang habis hanya berhenti memberi makan kepada sesuatu yang seharusnya sudah lama dibiarkan kelaparan.
Maka ia mulai dari ruang paling kecil.
Satu napas.
Satu hari.
Satu keputusan untuk tidak kembali menjadi tempat pembuangan bagi luka orang lain.
Satu keberanian untuk terlihat egois demi tidak punah.
Ia tidak lagi ingin penuh oleh semua orang.
Ia ingin punya ruang untuk dirinya sendiri.
Meski hanya sedikit.
Meski hanya beberapa byte.
Meski dunia tetap menyebutnya berubah karena manusia memang hobi protes ketika akses gratis mereka dicabut.
Di depan layar itu, ia menatap tulisan yang sama sekali tidak puitis:
0 bytes free of 237 GB.
Lalu ia berbisik, bukan kepada siapa-siapa:
“Berarti sekarang waktunya menghapus.”
Bukan untuk melupakan.
Tapi untuk hidup.
"Written by hand at the Coffeetale Chronicler Guild Hall."